Text
Hubungan Antara Motivasi Pelayanan dan Gaya Kepemimpinan dengan Kualitas Pelayanan Majelis Jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Jakarta Timur
Lelly Frida Yohanes, Hubungan Motivasi dan Gaya Kepemimpinan dengan Kualitas Pelayanan Majelis Jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Jakarta Timur. Tesis, Jakarta: Program Pascasarjana UKI Jakarta, 2006.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi (X1) dan gaya kepemimpinan (X2) dengan kualitas pelayanan majelis jemaat (Y) GKP di Jakarta Timur. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah motivasi pelayanan dan gaya kepemimpinan sedangkan variabel terikat adalah kualitas pelayanan majelis jemaat.
Subyek penelitian adalah anggota majelis jemaat sebanyak 30 orang yang terdiri dari lima jemaat GKP di Jakarta Timur. Sumber data sebanyak 90 orang karena satu orang anggota majelis jemaat dinilai oleh tiga orang anggota jemaat. Teknik pengambilan sampel adalah simple random sampling. Survei dilakukan selama Januari sampai dengan Pebruari 2006.
Pengumpulan data variabel motivasi (X1) dan gaya kepemimpinan (X2) serta kualitas pelayanan majelis jemaat (Y) GKP di Jakarta Timur menggunakan angket model skala Likert dengan rentangan skor 1 sampai 5. Data yang diperoleh dari lapangan divalidasi dengan menggunakan analisis butir pendekatan interasi ortogonal pada skala data kontinum. Sedangkan reliabilitasnya diukur berdasarkan nilai Cronbach’s α>0,05.
Uji normalitas untuk distribusi data ketiga variabel dilakukan dengan estimasi proporsi melalui rumus Blom, karena dalam uji hipotesis ini peneliti menggunakan analisis regresi linear. Pendekatan yang digunakan adalah dengan P-P Plot, karena jumlah sampel penelitian ini < 200 responden. Berdasarkan tampilan grafis ketiga distribusi data menunjukkan bahwa hasil dari data variabel penelitian ini semuanya berdistribusi normal, baik normal plot maupun detrended-nya.
Hasil analisa data menunjukkan:
Pertama, hubungan antara Motivasi Pelayanan (X1) dengan Kualitas Pelayanan Majelis Jemaat (Y) adalah positif yaitu dihasilkan ry1 sebesar 0,206 dan t sebesar 1,116 adalah non-signifikan pada α>0,05. Analisis hubungan linear antara motivasi pelayanan terhadap kualitas pelayanan dihasilkan F sebesar 1,383 adalah non-signifikan pada α>0,05. Artinya, hubungan kedua variabel tersebut berbentuk linear. Keeratan hubungan kedua variabel tersebut sebesar 0,08%. Artinya, terbentuknya kualitas pelayanan oleh karena motivasi pelayanannya hanya sebesar 0,08%. Hal ini sangat kecil sekali pengaruhnya dalam membentuk kualitas pelayanan. Jadi hubungan antara motivasi pelayanan dengan kualitas pelayanan adalah positif tetapi tidak signifikan.
Persamaan regresi linear menunjukkan Y^=69,938−0,257X1. Artinya, setiap terjadi penurunan tingkat motivasi pelayanan 1 unit, maka kualitas pelayanan majelis akan menurun 0,257 kali dari sekarang. Sedang uji regresi menunjukkan F sebesar 1,244 adalah non-signifikan pada α>0,05. Hubungan murni antara Motivasi Pelayanan dengan Kualitas Pelayanan Majelis jemaat yang dikontrol oleh gaya kepemimpinan dihasilkan ry1.2 sebesar -0,2713 adalah non-signifikan pada α>0,05. Artinya, tidak terjadi hubungan murni antara Motivasi Pelayanan dengan Kualitas Pelayanan Majelis Jemaat. Jadi hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan positif dan signifikan antara Motivasi Pelayanan dengan Kualitas Pelayanan Majelis Jemaat tidak terbukti dalam penelitian ini.
Kedua, hubungan antara Gaya Kepemimpinan (X2) dengan Kualitas Pelayanan Majelis Jemaat (Y) adalah positif yaitu dihasilkan ry2 sebesar 0,945 dan t sebesar 15,241 adalah sangat signifikan pada α0,05. Artinya, hubungan kedua variabel tersebut berbentuk linear.
Persamaan regresi linear menunjukkan Y^=5,136+0,568X2. Artinya, setiap perbaikan 1 unit atau program terhadap gaya kepemimpinan majelis, maka kualitas pelayanan majelis akan meningkat 0,568 kali dari sekarang. Sedang uji regresi linear menunjukkan F sebesar 232,298 adalah sangat signifikan pada α
| S00005 | Perpustakaan | Available |
No other version available