Text
Studi Tentang Pandangan Para Tokoh Agama Terhadap Pelayanan Sosial Gereja Kristen Pasundan (GKP) Dayeuhkolot dan Signifikansinya Terhadap Konteks Kerukunan Umat Beragama di Kecamatan Dayeuhkolot Bandung
Pelayanan sosial merupakan salah satu tanggung jawab religius Gereja-Gereja di Indonesia. Mengingat kondisi Indonesia yang semakin terpuruk, maka pelayanan sosial atau dengan istilah lainnya diakonia menjadi agenda yang tak kalah pentingnya dengan kegiatan ber-pI. Di samping itu, pelayanan sosial memiliki nilai lebih, yakni memposisikan keberadaan Gereja sebagai bagian dari kehidupan masyarakat umum. Karena, posisi Gereja yang sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan bermasyarakat akan semakin berarti apabila kehadiran Gereja tidak hanya dibatasi oleh keangkuhan dan kesombongan jemaat untuk mendirikan tembok-tembok pemisah.
Namun, yang menjadi persoalannya adalah bagaimana tanggapan pihak lain terhadap berbagai bentuk pelayanan sosial yang dilakukan oleh Gereja. Ditemukan bahwa begitu banyak tanggapan yang muncul secara kontradiktif, baik yang menerima maupun yang menolak. Dari pihak Gereja, bahwa mereka tidak mengerti kenapa sehingga pelayanan yang mulia seperti itu dinilai atau dituding yang bermacam-macam. Di lain pihak, terutama bagi mereka yang tidak menerima selalu berpikir bahwa pelayanan sosial seperti itu sebenarnya memiliki motif tertentu, yakni berupaya untuk mempengaruhi sekelompok orang untuk memeluk agama lain. Persoalan ini semakin rumit ketika berbagai kasus muncul, seperti penutupan Gereja-Gereja di Jawa Barat oleh Aliansi Gerakan Anti Pemurtadan (AGAP). Salah satu tudingan yang sempat dilontarkan adalah adanya aksi pemurtadan yang berkedok pelayanan sosial kemasyarakatan.
Karena itu, dalam menghadapi persoalan ini Gereja sudah saatnya untuk berpikir kembali tentang bentuk-bentuk, sasaran dan cara pelayanan sosial. Maksudnya adalah supaya Gereja dihindarkan dari tudingan-tudingan yang dikemukakan oleh kelompok masyarakat yang tidak menyetujuinya. Dengan begitu, pelayanan sosial yang Gereja lakukan tidak didasarkan pada pemahaman bahwa Gereja adalah sama dengan “sinterklas” yang membagi-bagi hadiah. Karena jika demikian, maka sama halnya dengan Gereja memposisikan dirinya sebagai pihak yang lebih dan mapan sedangkan yang lain tidak mapan atau berkekurangan. Selain itu, persepsi tentang pekabaran Injil lebih utama dari yang lain, harus dipatahkan atau dihilangkan dan juga motif utama pelayanan sosial Gereja seharusnya didasarkan pada metode pelayanan Yesus yang murni dan tanpa paksaan atau kepentingan untuk memperoleh dukungan atau sambutan hangat dari orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Dayeuhkolot Bandung.
| S00006 | Perpustakaan | Available |
No other version available