Text
Kontekstualisasi Liturgi GKP
Menjelang usianya yang ke-75 tahun, GKP belum memperlihatkan upaya kontekstualisasi liturgi. Tata liturgi Minggu yang dipergunakan saat ini masih merupakan tata liturgi yang dibawa oleh para zendeling NZV. Tata liturgi tersebut merupakan tata liturgi Gereja Reformed abad ke-18 yang menyatakan diri sebagai Gereja Calvinis. Meskipun menyatakan diri sebagai Gereja Calvinis, apa yang mereka praktikkan dalam kehidupan jemaat, khususnya dalam hal berliturgi, tidak berdasarkan ajaran Calvin yang murni. Ajaran Zwingli dan Farel justru lebih menonjol dalam liturgi mereka.
Sementara liturgi GKP masih bertahan dalam bentuknya yang lama, kehidupan jemaat-jemaat GKP telah mengalami berbagai perubahan. Perayaan liturgi dalam pandangan yang terbatas memang nampak berjalan dengan lancar tanpa masalah. Namun bila kita melihat dengan lebih mendalam, serta memperhatikan kaidah-kaidah ilmu liturgi, maka terdapat berbagai permasalahan. Hasil penelitian di lapangan pun menunjukkan bahwa Tata Kebaktian Minggu I-IV yang dipergunakan oleh GKP belum cukup menolong jemaat untuk beribadah secara sungguh-sungguh, teratur, dan indah. Dampak dari ibadah pun masih terbatas pada dimensi vertikal, yakni menumbuhkan relasi antara Allah dan umat. Relasi antara sesama umat dan dengan realitas kehidupan masyarakat belum banyak mendapatkan pengaruh. Penggunaan Tata Kebaktian Minggu III dan IV, yang secara umum belum dipahami oleh jemaat, malah mengakibatkan hilangnya dimensi sakral dari sebuah perayaan liturgi.
Masalah lain yang nampak dalam perayaan liturgi GKP adalah belum terpenuhinya hakikat liturgi sebagai sebuah perayaan. Padahal, ketika liturgi belum diwujudkan sebagai sebuah perayaan, umat hanya ditempatkan sebagai penonton. Sebuah perayaan menekankan partisipasi umat secara aktif. Saat merayakan liturgi, umat seyogianya tidak lagi terpaku pada buku Tata Kebaktian, instruksi pelayan, atau pada media yang lain. Kebaktian Minggu GKP belum menjadi sebuah perayaan, juga karena adanya ketidakseimbangan dalam unsur-unsur liturgi. Khotbah menjadi unsur yang paling menonjol, sedangkan unsur yang lain hanya menjadi pelengkap. Alhasil, hanya khotbah yang berkesan bagi umat, sedangkan unsur yang lain setiap minggu berlalu tanpa makna yang mendalam.
Kontekstualisasi liturgi merupakan upaya pembaruan yang harus ditempuh oleh GKP. Kontekstualisasi liturgi, bukan sekadar mengubah atau menempelkan unsur-unsur baru dalam liturgi GKP. Kontekstualisasi liturgi dilakukan melalui pendalaman atas liturgi GKP dan pendalaman atas apa yang menjadi konteks GKP di masa kini. Kontekstualisasi tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya dasar teologis dan liturgis. Dalam kehidupan GKP, upaya kontekstualisasi liturgi di antaranya dapat dilakukan dengan menentukan dasar berpijak liturgi GKP, mengembangkan liturgi sebagai sebuah perayaan, mengangkat unsur kebudayaan lokal, dan menyusun sebuah struktur dasar tunggal bagi liturgi GKP.
Lahirnya sebuah liturgi yang kontekstual bukanlah tujuan akhir dari sebuah upaya kontekstualisasi liturgi. Selama konteks mengalami perubahan, maka upaya kontekstualisasi harus terus berlangsung. Sebagai gereja multikultural dan memiliki berbagai karakter jemaat yang khas, upaya kontekstualisasi liturgi GKP tidak sepenuhnya dapat dilakukan secara sinodal. Jemaat-jemaat lokal secara mandiri pun harus menempuh upaya kontekstualisasi.
| S00024 | Perpustakaan | Available |
No other version available